I just got this idea and I don’t want to lose it, so here we
go.
Rune Factory 3 Fanfiction
“Ghaaaah haaaaah!” seorang pemuda manis berlari kencang
keluar dari rumah pohon Sharance.
Napasnya memburu dengan wajah nampak menunjukkan keseriusan. Tubuhnya penuh
debu dan kotoran, serta noda hitam dari pembakaran. Di pelipis kirinya terlihat
jejak darah yang masih sedikit basah, pertanda bahwa luka itu baru didapatnya.
Beberapa luka gores dan lebam juga terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Tapi
semua itu sepertinya dikalahkan oleh keperluan si pemuda yang nampak
sangat-sangat penting.
“Oh tidak, bulannya! Aku terlambat! Sialan!” geram si pemuda
masih berlari. Ia melewati sebuah kelokan dan beberapa rumah warga. Ia mendecih
pelan lalu menggerutu karena kelalaiannya, hingga ia lupa hari ini. Hari yang
sangat penting bagi dirinya.
“Sedikit lagi!” matanya mengernyit, sebulir keringat baru
saja masuk ke matanya. Tapi ia tidak berhenti.
KNOCK KNOCK KNOCK
Gedoran di pintu rumah yang merangkap toko itu terlalu
keras. Mungkin saja Nyonya Hazel dan Karina bisa mendengar gedoran pintu itu.
Tapi pemuda itu nampaknya tak begitu peduli. Ia menunggu dengan gelisah di
depan pintu, sampai akhirnya kenop pintu itu berputar terbuka.
“Micah? Ada apa malam-malam begini?” Gaius, si pemilik rumah
dan blacksmith ditokonya sendiri, itu
menatap heran pada pemuda bernama Micah yang tengah ngos-ngosan di depan pintu rumahnya dengan rupa yang berantakan.
“Apa ada monster yang menyerangmu? Dimana dia?” tanya Gaius
sampil menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri.
“T-tidak! Tidak ada monster!” jawab Micah cepat. Gaius makin
mengernyit.
“Lantas ada ap—“
“A-aku ingin bertemu Raven, kumohon!” potong Micah cepat.
Gaius menatap Micah sebentar, kemudian mengangguk dan menghilang dari hadapan
Micah. Sayup, ia bisa mendengar Gaius sedang mengetuk pintu kamar Raven,
memanggilnya untuk menemui pemuda yang saat ini nampak lebih gelisah daripada
yang tadi. Ia sudah berhenti berlari dari sepuluh menit yang lalu, tapi kenapa
jantungnya masih berdebar layaknya ia berlari berpuluh-puluh kilometer?
“M-Micah? Ada apa malam-malam begini? Oh ya ampun! Ada apa
denganmu?” Raven yang baru saja turun langsung menutup mulutnya melihat
penampilan Micah yang sangat berantakan.
“Lukamu! Kau harus segera diobati, Micah!” seru Raven
berjalan masuk. Tapi Micah keburu menarik tangannya, menahannya pergi.
“Tidak ada waktu Raven! Cepat ikut aku sekarang!” ujar Micah
serius.
“Tapi luka—“
“Ayo pergi, kita akan terlambat!” seret Micah sambil
berlari. Raven hanya mampu menatapnya bingung dan mengikuti Micah berlari,
dengan tangannya yang masih di genggam oleh Micah.
Mereka terus berlari, hingga akhirnya udara dingin menyergap
tubuh mereka. Raven baru menyadari bahwa Micah menariknya menuju Vale.
“Ah, jangan berlari. Di sini licin. Perhatikan langkahmu
Raven!” ujar Micah yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Raven. Kemudian
mereka berjalan perlahan menuju arah timur. Tangan Micah masih menggenggam erat
tangan Raven. Membuat gadis bersurai merah itu memerah pipinya.
“...tanganmu,” ujar Raven singkat. Micah menoleh.
“Tangan? Ada apa dengan tanganku?” tanya Micah. Raven
menunduk.
“.........masih menggenggam tanganku.....” jawabnya pelan.
Tapi sanggup untuk didengar Micah.
“Kau tidak suka?” tanya Micah kemudian. Membuat langkah
Raven terhenti. Dan Micah malah mengeratkan genggamannya.
“...”
“Raven?”
“....aku suka...tanganmu hangat...” ujar Raven sambil
mengalihkan pandangannya. Wajahnya sudah sewarna dengan rambutnya. Micah
tersenyum.
“Bukan masalahkan? Ayo kita berjalan lagi,” ujar Micah.
Raven menurut saja. Ia tak sadar kemana ia melangkah, karena wajahnya selalu ia
tundukkan.
“Raven. Kita sudah sampai,” ujar Micah lembut. Raven
langsung memandang sekitar. Ini tempat favoritenya. Tempat yang paling ia suka
selain sand dunes. Icy Rosebush. Dengan bulan purnama
menggantung di angkasa tepat di atas mawar es itu. Membuat cahayanya terpantul
cantik. Tangkai mawar yang seperti sulur itu layaknya berlian yang paling
mahal. Raven memandangnya tanpa kedip. Ini merupakan pemandangan paling indah
yang pernah ia lihat dalam hidupnya.
“Cantik sekali...” gumam Raven tanpa sadar.
“Ya. Cantik sekali.” sahut Micah mengikuti arah pandang
Raven. Kemudian ia menghadapkan tubuhnya ke arah Raven.
“Seperti dirimu. Persis seperti dirimu.” sambung Micah yang
langsung membuat Raven tersentak.
“...eh?”
“Bunga ini...seperti cerminan dirimu. Kau dingin saat
pertama kali bertemu denganku. Susah untuk didekati, layaknya mawar yang
memiliki banyak duri. Kau tak peduli dengan sekelilingmu, karena mereka juga
tak peduli padamu. Padahal, dibalik itu semua, kau hanya seseorang yang rapuh
dan membutuhkan teman. Kau terlalu malu untuk mengakui itu. Kau sama rapuhnya
dengan mawar ini, yang hanya terlihat kokoh dari luar. Dan kau tahu apalagi
persamaanmu dengan bunga ini? Kau dan bunga ini unik. Tak akan ditemukan di
tempat lain. Bunga ini hanya ada disini selamanya. Sementara kau. Hanya ada
dihatiku selamanya.” ucap Micah panjang lebar dengan penuh keyakinan. Sorot
matanya hanya tertuju pada mata Raven yang saat ini tengah berkaca-kaca.
“Untuk itulah, aku membawamu ke tempat spesial ini. Aku ingin
kau menjawab pertanyaanku. Tapi kau harus menjawabnya dari hatimu,” lanjut
Micah sambil merogoh kantung celananya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kotak
kecil berlapis beludru putih cerah dan membuka kotak itu. Nampak di dalamnya
sebuah cincin perak bertahtakan batu rubi sedang tertanam diantara kain di
dalam kotak itu. Micah pun berjongkok di hadapan Raven yang hanya bisa terdiam,
seraya berkata
“Menikahlah denganku. Isilah hari-hariku yang datar ini
menjadi penuh gelombang. Temani aku dalam menghadapi waktu. Izinkan aku
membahagiakanmu. Sekali lagi, mau kah kau menikah denganku?” tangan kanan Micah
meraih cincin itu, lalu mengarahkannya ke hadapan Raven.
Raven tak bisa berkata apapun. Pikirannya tiba-tiba kosong.
Bibirnya kelu untuk mengucapkan sesuatu. Tubuhnya bergetar pelan. Matanya berkaca-kaca
dengan jemari menutupi mulutnya. Uap panas menguar dari sela-sela jarinya.
Bibirnya kemudian terkatup, terlalu susah untuk mengatakan yang ada dibenaknya
sekarang. Isi perutnya terasa seperti kupu-kupu yang berterbangan. Berputar dan
membuat rasa geli.
“A-aku...” ucapan Raven tergagap. Ia menggigit bibirnya
dalam diam. Micah memandang Raven dengan tatapan teduh. Masih dengan sabar
menunggu jawaban Raven dengan senyum lembut di bibirnya.
“...Tentu saja. Aku mau menikah denganmu...” jawab Raven
setelah menghembuskan napas panjang. Senyuman Micah melebar. Diraihnya jemari
lentik Raven, kemudian memasangkan cincin itu di jari manis Raven.
Micah bangkit dari posisinya, kemudian menggenggam tangan
Raven erat. Menatap wajah cantik gadis dihadapannya yang telah lama mengisi kekosongan
hatinya.
“Aku mencintaimu,” tukas Micah dengan tangan bergerak untuk
menyingkirkan helai rambut di wajah Raven. Menyampirkannya pada telinga Raven
dan membuat wajah cantik gadis itu makin terlihat. Raven menunduk dalam. Tak berani
menatap mata bermanik safir dihadapannya.
‘Ini...bukan mimpi ‘kan?’
batin Raven. Sebulir air mata bahagia pun meluncur cepat dari matanya ketika
ia mendongak, membalas tatapan Micah yang masih setia menggenggam tangannya.
“...aku juga mencintaimu.” balas Raven penuh keyakinan. Bulir
air mata yang lain pun menyusul. Berjatuhan ke tanah berlapis es bening yang
berkilau. Micah tertegun mendengar jawaban Raven yang tidak seperti biasanya. Jawaban
yang membuat hatinya hangat dan sanggup mengalahkan dinginnya Vale ini.
Tanpa ia sadari, kedua tangannya meraih tubuh Raven. Merangkulnya
dalam dekapan hangat yang penuh rasa cinta. Menyandarkan kepalanya pada bahu
Raven. Tubuh gadis itu menegang kaget, tak terbiasa dengan sentuhan orang lain.
Tapi akhirnya Raven membalas pelukan itu dan menyandarkannya pada dada bidang
Micah.
“Terima kasih Raven. Terima kasih untuk jawabanmu. Aku berjanji
akan membuatmu bahagia jika bersamaku. Aku berjanji tidak akan pernah membuatmu
kesepian. Dan aku berjanji akan selalu melindungimu dan menjagamu disisa akhir
hidupmu,” bisik Micah di telinga Raven. Gadis itu makin mengeratkan pelukannya
pada tubuh pemuda berambut pirang itu. Bahunya berguncang pelan dengan air mata
haru yang tak bisa berhenti. Perlahan, Micah melepaskan pelukannya lalu menarik
dagu Raven. Menghapus air mata yang mengalir di pipi putih Raven.
“Terima kasih Raven. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” bisiknya
singkat, kemudian mengecup kening Raven dengan lembut.
Angin dingin berdesir halus di tempat itu. Bulan sudah mulai
beranjak dari posisi cantiknya tadi. Malu melihat kemesraan mereka. Membuat mawar
es itu tak terlalu berkilau. Cahaya dari bintang-bintang angkasa masih
berkedip. Seperti memandangi kedua insan itu dengan iri dan juga bahagia. Sebuah
mawar paling indah di puncak rosebush
pun turut berkilau terang. Layaknya menyetujui hubungan mereka berdua yang
masih diam diposisi yang sama.
“Kau tau Raven? Hari ini kau banyak bicara,” celetuk Micah
yang tangannya sedang menggandeng tangan Raven. Mereka sedang berjalan untuk
kembali ke rumah Raven. Berjalan perlahan seperti takut jika sampai ditujuan
dengan cepat, mereka akan berpisah.
“B-benarkah?” tanya Raven malu. Micah tersenyum hangat.
“Ya. Dan aku suka itu,” jawab Micah nyengir. Raven mengalihkan pandangannya.
“Gombal...” gumam Raven. Micah nyengir lebar.
“ Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya. Apa yang terjadi
denganmu? Maksudku, luka di pelipismu, baju yang penuh noda hitam itu, kau
benar-benar berantakan Micah,” tanya Raven berhenti melangkah. Micah tergagap
sejenak sebelum menggaruk kepalanya salah tingkah.
“Eeeeh, hahahaha, M-maafkan aku sebelumnya. Aku tidak bilang
terlebih dahulu soal penampilanku. Sebenarnya aku sudah merencanakan ini dari
jauh-jauh hari. Menunggu ketika bulan purnama muncul tepat di atas rosebush. Tapi aku nampaknya terlalu
asyik menerima permintaan dari warga kota hingga aku lupa hari ini. Cincin itu
baru sempat kuselesaikan kemarin, tapi aku lupa mencari batu rubi. Sambil menerima
permintaan Nyonya Shino, aku juga pergi mencari rubi. Nampaknya aku terlalu
fokus pada batu itu, sehingga aku lengah dan mendapat luka ini dari monster,”
ujar Micah seraya menunjukkan pelipisnya.
“Aku mengerjakan cincin itu tadi sore, dan baru selesai ketika
bulan sudah di tempat yang pas. Makanya aku terburu-buru datang ke rumahmu dan
mengajakmu ke rosebush. Aku tak
sempat membersihkan tubuhku, dan ya, aku tahu ini bukan penampilan yang cocok untuk
meminang seorang gadis, jadi, maafkan aku...” sambung Micah masih salah
tingkah. Raven mendengarnya tanpa berkedip. Kemudian terkikik geli dengan
ekspresi Micah. Raven lalu menghampiri Micah dan mengecup singkat pipinya.
“Baiklah, kita harus pulang. Aku takut Gaius khawatir kalau
adiknya diculik oleh orang ceroboh sepertimu...” ucap Raven sambil berjalan
mendahului Micah. Pemuda itu tertegun dengan tangan mengusap bekas kecupan
Raven. Sebelum akhirnya berlari menyusul Raven dan menggandeng tangan gadis itu
lagi.
“Baiklah, ayo!”
A/N: Fiction yang lahir karena authornya frustasi, level
buat bikin engagement ring berhenti
di level 12. Authornya kebelet Micah nikah sama Raven. Authornya banting stir
jadi tukang bikin romance ketimbang
misteri/horor/thriller. Terima kasih sudah membaca.